System musculoskeletal meliputi tulang, persendian, otot, tendon dan bursa. Masalah yang berhubungan dengan struktur ini sangat sering terjadi dan mengenai semua kelompok usia. Masalah system musculoskeletal biasanya tidak mengancam jiwa, namun mempunyai dampak yang bermakna terhadap aktivitas dan produktivitas penderita.
FRAKTUR
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap (seluruh tulang patah) atau tidak lengkap (tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang) (Price,2006). Sedangkan, Matassrin (1997) mendefinisikan fraktur sebagai terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang normal, terjadi ketika tekanan yang berlebihan mengenai tulang dan tidak bisa diredam. Biasanya hal ini juga menimbulkan cedera jaringan lunak sekitarnya seperti kulit, jaringan subkutan, otot, pembuluh darah, syaraf, ligamen, dan tendon. Fraktur terjadi ketika tulang mendapatkan energi kinetik yang lebih besar dari yang dapat tulang serap. Fraktur itu sendiri dapat muncul sebagai akibat dari berbagai peristiwa diantaranya pukulan langsung, penekanan yang sangat kuat, puntiran, kontraksi otot yang keras atau karena berbagai penyakit lain yang dapat melemahkan otot. Pada dasarnya ada dua tipe dasar yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur, kedua mekanisme tersebut adalah: mekanisme direct force (dimana energi kinetik akan menekan langsung pada atau daerah dekat fraktur) dan mekanisme indirect force (energi kinetik akan disalurkan dari tempat terjadinya tekanan ke tempat dimana tulang mengalami kelemahan). Fraktur tersebut akan terjadi pada titik atau tempat yang mengalami kelemahan. Pada saat terjadi fraktur periosteum, pembuluh darah, sumsum tulang dan daerah sekitar jaringan lunak akan mengalami gangguan. Sementara itu perdarahan akan terjadi pada bagian ujung dari tulang yang patah serta dari jaringan lunak (otot) terdekat. Hematoma akan terbentuk pada medularry canal antara ujung fraktur dengan bagian dalam dari periosteum. Jaringan tulang akan segera berubah menjadi tulang yang mati. Kemudian jaringan nekrotik ini akan secara intensif menstimulasi terjadinya peradangan yang dikarakteristikan dengan terjadinya vasodilatasi, edema, nyeri, hilangnya fungsi, eksudasi dari plasma dan leukosit serta infiltrasi dari sel darah putih lainnya. Proses ini akan berlanjut ke proses pemulihan tulang yang fraktur tersebut.
Klasifikasi Fraktur Berdasarkan hubungan dengan dunia luar
1. Fraktur tertutup
Fraktur sederhana dengan kondisi kulit sekitar fraktur tetap utuh, tulang tidak menusuk kulit
2. Fraktur terbuka
Terjadi perlukaan didaerah fraktur sehingga terjadi kontak dengan dunia luar. Terdapat 3 grade:
- Grade I : Luka kecil < 1 cm, dengan kontaminasi Minimal/ luka bersih
- Grade II : Luka > 1 cm, kerusakan jaringan lunak dan kontaminasi sedang
- Grade III : Luka lebih besar antara 6-8 cm dengan Kerusakan pada syaraf dan tendon dan kontaminasinya berat
Berdasarkan pola fraktur
1. Fraktur linear
Fraktur yang garis patahnya utuh. Bisa transverse atau oblique. Terjadi karena kekuatan yang minimal atau sedang.
2. Fraktur Oblique
Fraktur yang garis patahnya membentuk sudut ( 45 ) terhadap tulang. Fraktur oblique biasanya dihasilkan oleh kekuatan yang memutar
3. Fraktur Longitudinal
Fraktur yang garis patahnya memanjang
4. Fraktur Transversal
Fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Fraktur ini bisa terjadi pada klien dengan gangguan tulang, seperti: Paget’s disease, osteomalacia, osteogenesis imperfecta
5. Fraktur Spiral Timbul akibat torsi pada ekstermitas.
Fraktur ini biasanya karena kekuatan yang memutar dengan dorongan keatas.
Berdasarkan tipe fraktur
1. Avulsion fracture
Fraktur avulsi memisahkan 1 fragmen tulang pd tempat insersi tendon/ ligamen
2. Compression fracture
Fraktur kompresi dihasilkan karena beban berat yang menekan tulang. Akibat asteoporosis sehingga terjadi fraktur kompresi vertebral.
3. Communited fracture
Lebih dari satu garis fracture, fragmen tulang pecah, terpisah-pisah dalam berbagai serpihan
4. Greenstick fracture
Fraktur pada sebagian fragmen tulang dan sebagian lain tetap utuh
5. Impacted fracture
Sebagian fragmen tulang menusuk sebagian fragmen lain
6. Pathologic fracture
Terjadi karena kerusakan didalam tulang seperti neoplasma, osteoporosis
7. Stress (fatique) fracture
Berdasarkan Eponym
1. Colles’ Fracture
Jarak bagian distal fraktur +/- 1 cm dari permukaan sendi
2. Pott’s fracture
Fraktur yang terjadi dibagian medial malleolus tibia dan fibula dan sering terjadi ruptur di ligamen lateral interna. Kerusakan serius bila terjadi di persendian tibiofibular
Berdasarkan lokasi anatomic
1. Articular fracture Meliputi permukaan sendi
2. Extracapsular fracture Dekat sendi tetapi tidak masuk kedalam kapsul sendi
3. Intracasular fracture Didalam kapsul sendi
4. Epiphyseal fracture Terjadi kerusakan pada pusat ossifikasi
DISLOKASI DAN SUBLOKASI
Sublokasi adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan adanya deviasi hubungan normal antara tulang rawan yang satu dengan yang lainnya yang masih menyentuh berbagai bagian pasangannya. Jika kedua bagian ini sudah tidak menyinggung satu dengan yang lainnya maka disebut dislokasi.
OSTEOMIELITIS
Adalah infeksi jaringan tulang yang dapat terjadi secara akut maupun kronik. Bentuk akut dicirikan dengan adanya awitan demam sistemik maupun manifestasi local yang berjalan dengan cepat. Pada orang dewasa, osteomielitis dapat diawali oleh bakteri dalam aliran darah, namun biasanya akibat kontaminasi jaringan saat cedera atau operasi. Sedangkan osteomielitis kronis adalah akibat dari osteomielits akut yang tidak ditangani dengan baik. Osteomielitis sangat resisten terhadap pengobatan dengan antibiotika. Menurut teori hal ini disebabkan oleh karena sifat korteks tulang yang tidak memiliki pembuluh darah. Tidak cukup banyak antibody yang dapat mencapai daerah yang terinfeksi tersebut. Infeksi tulang sangat sulit untuk dibasmi, bahkan tindakan drainase dan debridement, serta pemberian antibiotika yang tepat sering tidak cukup untuk menghilangkan penyakit.
TUMOR SISTEM MUSKULOSKELETAL
1. TUMOR JINAK
OSTEOMA
Merupakan lesi tulang yang bersifat jinak dan ditandai oleh pertumbuhan tulang yang abnormal. Osteoma klasik berwujud sebagai suatu benjolan yang tumbuh dengan lambat, tindak nyeri. Pada pemeriksaan radiografi, osteoma perifer tampak sebagai lesi radiopak yang meluas dari permukaan tulang; osteoma sentral tampak sebagai suatu massa sklerotik.
KONDROBLASTOMA
Merupakan tumor jinak yang jarang ditemukan dan biasanya paling sering menyerang anak laki-laki yang berusia remaja. Tumor ini secara unik ditemukan pada epifisis, tempat yang paling sering terserang adalah tulang humerus. Gejala seringkali berupa nyeri sendi yang timbul dari jaringan tulang.
ENKONDROMA
Disebut juga sebagai kondroma sentral, merupakan tumor jinak sel-sel rawan displastik yang timbul pada metafisis tulang tubular, terutama pada tangan dan kaki. Tumor berkembang selama masa pertumbuhan pada anak dan remaja. Keadaan ini meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur patologis.
TUMOR SEL RAKSASA
Sifat khas dari tumor sel raksasa adalah adanya stroma vaskuler dan seluler yang terdiri dari sel-sel berbentuk oval yang mengandung sejumlah neukleus lonjong, kecil dan gelap. Pada jenis yang ganas tumor ini menjadi anaplastik dengan daerah-daerah nekrosis dan perdarahan. Tumor- tumor sel raksasa terutama terjadi pada orang dewasa muda dan lebih banyak pada wanita. Tempat-tempat yang biasa diserang adalah ujung-ujung tulang panjang, terutama lutut dan ujung bawah radius. Gejala yang tersering adalah nyeri dan keterbatasan gerakan sendi dan kelemahan.
2. TUMOR GANAS
MULTIPLE MIELOMA
Merupakan tumor ganas yang sering terjadi pada tulang dan terjadi akibat proliferasi ganas dari sel-sel plasma. Gejala yang paling sering muncul adalah nyeri tulang dan lokasi nyeri seringkali pada tulang iga dan tulang belakang. Lesi-lesi pada tulang punggung dapat menyebabkan vertebra kolaps dan kadang-kadang menjepit saraf spinal.
SARKOMA OSTEOGENIK
Disebut juga osteosarkoma; neoplasma tulang primer yang sangat ganas yang tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung dari tulang panjang, terutama lutut. Nyeri yang menyertai destruksi tulang dan erosi tulang adalah gejala umum dari penyakit ini. Keganasan ini dapat menghasilkan pertumbuhan tulang yang bersifat abortif. Gangguan seperti ini pada radiogram akan terlihat sebagai suatu ‘sunburst’ (pancaran sinar matahari).
KONDROSARKOMA
Kondrosarkoma merupakan tumor tulang ganas yang terdiri dari kondrosit anaplastik yang dapat tumbuh sebagai tumor tulang perifer atau sentral. Gejala yang paling sering adalah massa tanpa nyeri yang berlangsung lama. Tempat-tempat yang serng ditumbuhi tumor ini adalah pelvis, femur, tulang iga, gelang bahu dan tulang-tulang kraniofasial. Pada radiogram, kondrosarkoma akan tampak sebagai suatu daerah radiolusen dengan bercak-bercak perkapuran yang tidak jelas.
SARKOMA EWING
Sarcoma Ewing paling sering terlihat pada anak-anak dalam usia belasan dan tempat yang paling sering adalah korpus tulang-tulang panjang. Dibawah periosteum terbentuk lapisan-lapisan tulang yang baru diendapkan parallel dengan batang tulang sehingga membentuk gambaran serupa kulit bawang. Manifestasi yang khas adalah nyeri, benjolan nyeri tekan, demam dan leukositosis.
OSTEOARTRITIS
Osteoarthritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak yang paling umum terjadi . Penyakit ini bersifat kronik, berjalan progresif lambat, tidak meradang dan ditandai oleh adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada permukaan persendian. Berdasarkan factor-faktor penyebab, penyakit ini lebih banyak terjadi pada wanita. Kondrosit adalah sel yang tugasnya membentuk proteoglikan dan kolagen pada rawan sendi. Dengan alasan-alasan yang masih belum diketahui, sintesis proteoglikan dan kolagen meningkat tajam pada osteoarthritis. Tetapi substansi ini juga dihancurkan dengan kecepatan yang lebih tinggi, sehingga pembentukan tidak mengimbangi kebutuhan. Sejumlah kecil kartilago tipe I menggantikan tipe II yang normal, sehingga terjadi perubahan pada diameter dan orientasi serat kolagen yang mengubah biomekanika dari cartilage. Rawan sendi kemudian kehilangan sifat komprebilitasnya yang unik. Walaupun penyebab sebenarnya dari osteoarthritis tidak diketahui, tetapi kelihatannya proses penuaan ada hubungannya dengan kondrosi, menimbulkan perubahan pada komposisi rawan sendi yang mengarah pada perkembangan osteoarthritis. Factor-faktor yang berperan pada penyakit ini adalah factor genetic, hormone seks dan hormone-hormon lainnya. Sendi yang paling sering terserang adalah sendi-sendi yang harus memikul beban tubuh, antara lain lutut, panggul, vertebra lumbal dan servikal dan sendi falang distal dan proksimal. Pada arthritis reumathoid, sendi falang proksimal dan sendi metacarpal keduanya terserang, namun sendi interfalang distal tidak terlibat. Osteoarthritis terutama menyebabkan perubahan biomekanika dan biokimia didalam sendi, seringkali terjadi pula sinovitis tetapi osteoarthritis bukanlah penyakit peradangan. Manifestasi klinis yang muncul adalah nyeri sendi terutama saat sendi bergerak atau menanggung beban, keterbatasan gerakan, nyeri tekan local, pembesaran tulang disekitar sendi, sedikit efusi sendi dan krepitasi
ARTRITIS REUMATOID
Merupakan gangguan kronik yang menyerang berbagai system organ dan adalah salah satu dari sekelompok penyakit jaringan ikat difus yang diperantarai oleh imunitas dan tidak diketahui penyebabnya. Penyakit ini lebih banyak diderita oleh wanita dimana insidensi meningkat bersamaan dengan penambahan usia. Penyebab arthritis rheumatoid masih belum diketahui walaupun banyak hal mengenai patogenesisnya telah terungkap. Destruksi jaringan sendi terjadi melalui dua cara. Pertama adalah destruksi pencernaan oleh produksi protease, kolagenase dan enzim-enzim hidrolitik lainnya. Enzim-enzim ini memecah kartilago, ligament, tendon dan tulang pada sendi serta dilepaskan bersama-sama dengan radikal oksigen dan metabolit asam arakidonat oleh leukosit polimorfonuklear dalam cairan synovial. Proses ini diduga adalah bagian dari respon autoimun terhadap antigen yang diproduksi secara local. Gambaran klinis sangatlah bervariasi dan tidak harus timbul secara sekaligus, antara lain gejala konstitusional (lelah, anoreksia, berat badan menurun dan demam), poliartritis simetris , kekakuan dipagi hari selama 1 jam, arthritis erosive, deformitas (kerusakan struktur penunjang sendi meningkat dengan perjalanan penyakit, nodul-nodul rematoid (massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita (umumnya terjadi di olekranon atau sepanjang permukaan ekstensor), dan manifestasi ekstra-artikular (jantung-perikarditis, paru-paru-pleuritis, mata dan kerusakan pembuluh darah.
GOUT
Gout merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolic, sekurang-kurangnya ada Sembilan gangguan, yang ditandai oleh meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia). Gout dapat berupa primer; akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan/penurunan ekskresi asam urat, dan sekunder; karena pembentukan asam urat yang berlebihan atau ekskresi asam urat yang berkurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat-obatan tertentu. Gout jarang ditemukan pada perempuan, sekitar 95%kasus adalah pada laki-laki. Terdapat empat tahap perjalanan klinis dari penyakit gout yang tidak diobati. Tahap pertama adalah hiperurisemia asimtomatik (peningkatan nilai asam urat 9-10 mg/dl), pada tahap ini tidak muncul gejala-gejala. Tahap kedua adalah artitis gout akut, terjadi awitan mendadak pembengkakan dan nyeri yang luar biasa (pada sendi ibu jari kaki dan sendi metatarsofalangeal. Tahap ini biasanya mendorong pasien untuk mencari pengobatan segera, serangan gout akut biasanya pulih tanpa pengobatan, tetapi dapat memakan waktu 10 sampai 14 hari. Perkembangan dari serangan akut gout umumnya mengikuti serangan peristiwa yang diawali dengan hipersaturasi dari urat plasma dan cairan tubuh, selanjutnya penimbunan didalam dan sekeliling sendi-sendi. Mekanisme terjadinya kristalisasi urat setelah keluar dari serum masih belum jelas dimengerti serangan gout seringkali terjadi sesudah trauma local atau rupture tofi (timbunan natrium urat), yang mengakibatkan peningkatan cepat konsentrasi asam urat local. Tubuh mungkin tidak dapat mengatasi peningkatan ini dengan baik, sehingga terjadi pengendapan asam urat diluar serum. Kristalisasi dan penimbunan asam urat akan memicu serangan gout. Kristal-kristal asam urat memicu respons fagositik oleh leukosit, sehingga leukosit memakan Kristal-kristal urat dan memicu respons peradangan lainnya. Respons peradangan ini dapat dipengaruhi oleh lokasi dan banyaknya timbunan Kristal asam urat. Reaksi peradangan dapat meluas dan bertambah sendiri, akibat dari penambahan timbunan Kristal serum. Tahap ketiga setelah serangan gout akut adalah tahap interkritis. Tidak terdapat gejala pada masa ini yang dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai beberapa tahun. Tahap keempat adalah tahap gout kronik, dengan timbunan asam urat yang terus bertambah dalam beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai. Peradangan kronik akibat Kristal-kristal asam urat mengakibatkan nyeri, sakit dan kaku, juga penonjolan dan pembesaran sendi yang bengkak. Tofi terbentuk pada masa gout kronik akibat insolubilitas relative asam urat. Lokasi yang sering dihinggapi tofi adalah bursa olekranon, tendon Achilles, permukaan ekstensor lengan bawah, bursa infrapatelar dan heliks telinga. Gout dapat merusak ginjal, sehingga ekskresi asam urat akan bertambah buruk. Kristal-kristal asam urat dapat terbentuk dalam interstitium medulla, papilla dan pyramid sehingga timbul proteinuria dan hipertensi ringan. Batu ginjal asam urat juga dapat terbentuk sebagai akibat sekunder dari gout.
REFERENSI
Black and matasarin Jacobs. (1997). Medical Surgical Nursing : Clinical management for continuity of care. (Edisi V). Philadelphia: Wb Sounders Company.
Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. (Edisi VIII). Jakarta: EGC.
Price, Sylvia Anderson. (2006). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. (Edisi VI). Jakarta: EGC.